Clock
|| Haruskah Siswa Benar-Benar Memiliki PR? ||
PR itu kayak kue cokelat. Kalau sepotong sih enak, bikin bahagia. Tapi kalau satu loyang disuruh habisin sendirian… siap-siap mules! Banyak guru bilang PR itu penting banget. Katanya, PR bisa bikin kita ingat pelajaran, melatih otak biar nggak “lemot”, dan bikin kita siap tempur di kelas besok. Dengan PR, kita bisa latihan soal, mengulang yang belum paham, dan biar nggak cuma bengong pas guru tanya,
“Siapa yang bisa jawab?”
Tapi… ada juga yang nggak setuju. Mereka bilang PR itu pencuri waktu main, pencuri waktu tidur siang, bahkan pencuri waktu nonton YouTube atau main game. Bayangin deh, pulang sekolah udah capek, pengen rebahan, eh malah disuruh duduk lagi ngerjain PR tebalnya kayak novel Harry Potter (kalau kamu nggak tahu Harry Potter, bayangin aja batu bata). Banyak anak sampai ketiduran di meja, pensil masih di tangan, PR belum selesai.
Beberapa guru dan ahli bilang, masalahnya bukan PR itu ada atau nggak, tapi seberapa banyak dan seberapa bagus PR-nya. Kalau PR-nya sedikit dan seru, misalnya bikin komik atau eksperimen di rumah, pasti asik. Tapi kalau PR-nya numpuk dan cuma nyalin buku, ya… siap-siap deh jadi zombie sekolah keesokan harinya. Jadi, mungkin pertanyaannya bukan “Perlu nggak sih PR?”, tapi “Gimana caranya PR bisa bikin kita pintar tanpa bikin kita pusing tujuh keliling?”

